Tulisan
itu terpajang di atas kaca ukuran sebadan di kamar Al Hidayah tiga
(H.3). Tulisan yang mengakibatkan kekacauan. Hari ini ribut banget. Mau
berangkat ke kampus, serasa pasar Bringharjo pindah ke kamar H.3. Ni
kan, hari terakhir ujian semester gasal. Abiz itu, libur panjang dech...Semangat bro!!!. Saking semangatnya, bangun kuliahnya jadi kesorean.
“Rin,
cepetan!, dah jam dua nih...!” Seru Fida yang sudah siap sejak tadi.
Dia memang tipe gadis yang kurang betah dengan kondisi kamar yang
terlalu ramai.
“Iya, bentar napa?!” Sahut Rina sambil menoleh sebentar ke arah Fida.
“Aduh..., minyak wangiku mana yach?” Rina sibuk membongkar kotak minyak wangi “bersama”.
“Ah, akhirnya ketemu juga!” Gumam Rina.
“Eh, An... kartu ujianku mana yach?.” Tanya Tiya pada Ana dengan tergesa-gesa.
“Aduh, ya... mana aku tahu...!” Jawab Ana sembari membenahi kerudung sutra birunya.
“Kemarin kan kamu yang bawa sendiri.” Lanjutnya.
“Iya...ya.
Aduh... mana sich?.” Tiya beranjak meninggalkan Ana. Lalu sibuk
membuka-buka “file”-nya. Kebiasaan buruk, naruh tidak pada tempatnya.
“Lun,
tungguin aku yach!.” Seru Ida ke Luna. Dia terlihat sedang memoles
kakinya dengan hand and body citra bengkoangnya. Hemmm..., wangi.
“Iya...!” Jawab Luna sambil bedakan di depan cermin.
“Buruan bro..., dah jam dua pas nich...!” Teriak Ama dari luar kamar.
Ama,
Fida, Ana dan Tiya berangkat ke kampus dengan sedikit berlari. Hanya
sedikit, ntar kalo banyak takut berkeringat!!!. Nggak, dech...??!!.
Akhirnya,
sampai juga di kelas. Pak dosen sudah stand bay di “kursi panas”nya.
Ujian telah di mulai sejak 10 menit yang lalu. Dalam keadaan masih
ngos-ngosan, mereka berempat mengambil lembaran kertas soal sekaligus
lembar jawaban. Lalu duduk di bangku masing-masing. Ambil nafas
sebentar, sekedar menenangkan getaran nadi yang tak karuan. Setelah itu,
baru dech bollpointnya digerakkan.
Yang
lebih parah adalah Ina, Luna dan Ida. Mereka baru memasuki ruangan 5
menit setelah rombongan Ama tadi. Payah!. Emang jamannya wanita “steril”
sich!!!. Jadinya, tanpa kuman baru mau jalan. Maksud nggak??.
*****
Ujian usai. Hanya satu jam kok!.
“Huh...” Ida mengekspresikan kelegaannya dengan over acting.
“Ha Be eS, tau!!” Sambut Rina yang berdiri tepat di depan Ida.
“Kamus eS eM eS-nya jalan lagi ni...” Timpal Ana.
“Apaan sich Rin?” Tanya Fida sembari melotot ke arah Rina.
“Kemarin ce Pe Ka De Ha. Terus, sekarang Ha Be eS.” Lanjut Fida yang makin penasaran.
“Hembusan Bau Sangit, he he...!!” Jawab Rina sambil nyengir. Yang lain tertawa serempak.
“Udah
dech, Rin. Kamu tuch pindah ke planet IM3 aja!. Biar ada yang
nyambung...” Ana berlagak memberi nasihat. Basi banget tau?!.
Itulah the gank “Rame Community”.
Dimanapun berada, selalu bikin gempar. Seperti saat ini, untuk
merayakan hari kebebasan –setelah satu minggu terkurung dalam kubangan
makalah yang memusingkan- mereka duduk-duduk di depan kelas lantai dua.
Bercanda ria.
“Cieeh...h!”
Seru Rame Community bersamaan sambil melirik Rina. Rina jadi keki.
Untung aja kulit wajah Rina nggak putih-putih amat, jadinya nggak
kelihatan merona. Meski begitu, tubuhnya terasa panas dingin. Jantungnya
berdetak, berdegup kencang, dan senyumnya melebar. Yach, begitulah
ekspresi Rina saat melihat sang idolanya...
“Udah jam segini, balik yuk!” Ajak Fida yang baru saja melototin jam tangannya.
“Buruan, ntar ditakzir lagi...”. semuanya mengangguk, tanda setuju.
“O ya, ntar malem jadi lho...” Sahut Ina, mengingatkan Rame community.
“Ok’ Bos...”
Ya iya iya lah...Ya iya iya dong. Kalo pulang sekolah langsung baling ke pondong!!.
*****
Di kamar H.3, tepukul 21.00 WIB.
Inilah
saatnya. Seluruh komunitas masuk ke kamar... Jendela ditutup beserta
kordennya. Pintu dikunci dari dalam. Ruangan telah ditata rapi seperti
biasanya. Tempat tidur tetap, tidak berpindah posisi. Abisnya, kalo
nggak gitu pasti nggak bakalan cukup!!!. Sebab, ada PeCel Lele
(Persatuan Cewek Lemu-lemu) juga!, he he...
“Ok’ kita mulai sekarang.” Ana berlagak seperti komandan pasukan baris-berbaris. Semuanya serentak menganggukkan kepala.
“Aku
merasa lebih baik daripada saat pacaran dulu. Walaupun setiap tanggal
empat belas seperti sekarang ini aku selalu mendapat kiriman coklat,
tapi aku lebih merasakan kehangatan dalam sebuah persahabatan ketika
bersama kalian...”. ucap Ida, mengawali acara Rame Community dengan
mengutarakan kesan dan pesannya.
Selanjutnya,
satu per satu Rame Community bergantian menyatakan isi hati mereka.
Tentang cinta. Isinya, kompleks bangets...!. Ada Ida yang baru putus sama pacarnya, namun bisa menyikapinya dengan dewasa. “Malah banyak waktu untuk nderes” katanya, sambil tertawa kecil. “Ntar aja, kalo dah khatam cari pacar yang abadi...”. Lanjutnya. Ama beda lagi, dia hanya mampu berdo’a agar dapat jodoh yang terbaik. Yach, mau gimana lagi?, di keluarga ndalemnya, perjodohan sudah jadi tradisi!!??. Kalau Fida, tetap pada prinsipnya. Yang penting, terus mencintai walau tak dihiraukannya. Dia adalah penganut rezim Kahlil Gibran, “Jika
cinta menghampirimu, ikutilah kemana ia pergi. Dan bila sayapnya
melukaimu, teruslah berjalan, ikutilah kemana ia berjalan. Nikmatilah
cintamu. Perjuangkanlah kekuatan cintamu, apapun hasilnya”. Istilah kerennya, Ce De Ha (Cinta Dalam Hati).
Yang seru tuch Ina.
Dia tetap dapat kiriman coklat plus bingkisan dari sang “kekasih
gelap”nya... ups, bukannya kekasih (selingkuhan) lho!. Disebut kekasih
gelap, tak lain karena si doi-nya berkulit agak gelap!!. Luna??. Dia tuch DDM banget!, Diem-Diem Mesra!. Cintanya hanya diungkapkan lewat do’a. Hebat kan?. Do’anya seperti ini: “Ya
Allah..., Jika dia adalah jodohku, dekatkanlah dia denganku. Namun,
jika tidak...jangan Engkau biarkan dia bersama orang lain...!. Maksudnya apa, coba? Nggak pake’ maksud, kan?.
Tiya,
yach... kalo yang ini sich nyantai-nyantai aja... Lha wong calonnya aja
dah jelas!. Lebaran ‘Idul Adha kemarin, dia baru aja tunangan. Kalau Rina...”Cinta
tanpa hubungan memang membingungkan”, katanya. “Tapi, juga
menyenangkan”, lanjutnya. “Bingung, karena malu kalau mau bilang kangen,
dan lain sebagainya. Senang, karena tak ada jaring yang mengekangnya.
Alias, nggak ada alasan untuk mencumburuinya maupun dicemburui...he he.”
Terangnya.
Terakhir, Ana. Dia berkeyakinan jika ada sebuah jalinan rasa saling percaya dalam ikatan cinta, maka akan berbuah surga. Jauh banget, kan??!.
Jam
dinding sudah menunjukkan pukul dua belas malam lebih enam puluh lima
menit, dua puluh empat detik. Rame Community telah terlelap dalam mimpi
indahnya, setelah sebelumnya mereka menyimpulkan, bahwa “Cinta itu merupakan energi. Ia bisa menguatkan, namun bisa pula melemahkan”.
*****
Pagi
yang cerah untuk jiwa yang merekah. Bagi Rame Community, hari baru bisa
dikatakan “cerah” bila pada hari itu mereka mendapatkan empat tanda
tangan. Satu dan dua dari Mbah Kyai, yakni deresan dan bimbingan. Tiga, ngeloh Bu Farchah. Dan empat,
mudarosah Bu Zum dan Bu Lilik Nur Kholidah. Nggaya banget, kan?!!.
Yach, inilah prinsip kebersamaan Rame Community. Bersama dalam menggapai
cita dan cinta.
Yang
perlu digaris bawahi adalah “Yang penting dapat tanda tangan”. Entah
itu bimbingan yang cuma ikut-ikutan, deresan sambil angguk-anggukan, ngeloh dibadali partneran, atau mudarosah nunggu bel peringatan... yang paling utama kan barokahnya...!.
Pukul 09.00 WIB.
Setelah
usai kegiatan mengaji, Rame Community kembali memenuhi kamar H.3.
dengan penuh semangat, mukena dilepas, kemudian dilipat. “Satu, dua,
tiga... serbu!!!” Ida memberi komando.
Rame
Community menuju almari masing-masing. Mengobrak-abrik tatanan pakaian
mereka demi sebuah harta karun yang sebenarnya lebih tepat disebut
“bingkisan”. Tiba-tiba...
“Panggilan...,
bagi nama-nama yang kami sebut, dimohon untuk segera ke ruangan
pengurus.” Suara kak Ita, koordinator seksi keamanan. “Ama, Ana, Ina,
Luna, Fida, Ida dan Tiya”. Rame Community diam tak mampu berkata-kata.
Saling memandang dan mengernyitkan kening masing-masing.
Kantor keamanan...
“Kalian
tahu, untuk apa kami memanggil kalian kesini?”. Tanya kak Ita mantap.
Rame Community menggelengkan kepala, lalu kembali ke posisi semula,
menunduk.
“Tadi pagi, kami melakukan razia ke seluruh kamar.” Sambung kak Ita. Sejenak beliau terdiam, kemudian melanjutkan ceramahnya.
“Apakah
kalian belum membaca amandemen qonun pesantren kita?. Pasal tiga, nomor
empat, tahun dua ribu sembilan?.” Suara kak Ita pelan, tapi begitu
nyaring terdengar jelas di telinga. Rame Community masih belum bisa
menangkap arah pembicaraan kali ini.
“Kami menemukan surat-surat ini di dalam almari kalian semua!!!” Bentak kak Ita. Rame Community tercekat...
“Kalian harus menjalani hukuman sesuai dengan apa yang telah menjadi ketetapan di Pondok ini...”
“Gubrak...!!!”
Serentak Rame Community tercengang. Rame Community saling memandang,
kemudian tertawa bersama. Mereka teringat surat-surat cinta yang sengaja
ditulis semesra mungkin, lalu ditaruh ke dalam almari secara acak.
Disertai pula dengan bingkisan coklat. Sesuatu yang mereka anggap
sebagai harta karun tadi. Sebagai lambang sebuah persahabatan yang
begitu indah, melebihi segalanya...
“Huuh...,
untung bukan surat dari pacarku beneran yang sekarang lagi ada di Aceh.
Tapi, kayaknya nggak mungkin banget dech!!. Sebab, sudah aku simpan
rapi di tempat yang paling aman dan nyaman...he he. Beruntung pacarku
jauh disana. Jadi, nggak bakal kena takzir dech.” Pikir Ina dalam
tawanya.
Sedangkan
para seksi keamanan merasa jengkel dengan Rame Community yang tertawa
tak memandang tempatnya. Mereka hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah
laku Rame Community yang semakin tak bisa dimengerti.
*******
Selamat Ulang Tahun An Nur-ku...
Bersamamu kumeniti hari
dan inginku s’lalu dapat menjunjung namamu...
Semoga Allah selalu
memberi cahaya padamu
Sehingga, kau pun takkan pernah redup...
Ku pasti kan merindukanmu.
Kala mata tak bisa lagi menerawang
Kala mulut tak lagi bisa berucap.
Hanya hati yang berinteraksi
Karena segala sesuatu ada disana
An Nur-ku...
Tegaplah selalu...
Oleh:
Ririn Maftuhatul Muna
Al Hidayah .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar